Data tersebut kemudian dicocokkan dengan pantauan langsung pada kemunculan bulan sabit yang menunjukkan pergantian bulan baru.
“Rukyat sejalan sunnah Nabi yang sudah dilakukan sejak dulu untuk melakukan rukyat saat akan mengawali atau mengakhiri puasa,” kata Abu Rokhmad saat memimpin rapat persiapan sidang isbat di kantor pusat Kemenag, Jakarta pada Selasa, 18 Maret 2025.
Sidang Isbat tersebut akan dimulai pukul 16.30 WIB dengan seminar posisi hilal di awal Syawal 1446 Hijriah. Dalam sidang ini, pemerintah akan memantau hilal dan menentukan awal Syawal berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.
|BACA JUGA:
Menag Tolak Tegas Praktik Suap dalam Promosi Jabatan
Viral,Solo Gelar Bukber Terpanjang, Pecahkan Rekor MURI!
Menurut perhitungan hisab, ijtimak terjadi pada 28 Februari 2025 pukul 07.44 WIB. Pada hari tersebut, ketinggian hilal di Indonesia sudah di atas ufuk antara 3° 5,91’ hingga 4° 40,96’, dengan sudut elongasi 4° 47,03’ hingga 6° 24,14’.
Dengan demikian, masyarakat diimbau untuk menunggu hasil sidang isbat sebelum menetapkan awal Ramadan dan Idul Fitri. Hal ini sejalan dengan fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 tentang penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah.